by @SeraNur_
“Apa? Dijodohin?!” Gadis berusia 19 tahun ini tampak shock mendengar pernyataan dari kedua orangtuanya
“Ayolah, Fi. Ini jalan satu-satunya agar kita bisa tetap hidup” bujuk Ibunda Afi, Emira
“Tapi, Ma. Aku gak mau dijodohin sama Taylor cowok jelek nan brengsek *ups-_- itu. Mama gak bisa nyuruh aku pisah sama Tav. Aku gak bisa” lirih Afi
“Taylor itu anak baik kok. Dia baru aja dapet gelar Master di Aussie. Dia ganteng kok” Emira terus merayu putri semata wayangnya itu
“Ih, ogah! Ganteng dari Arab!” Afi tetap ‘keukeuh’ pada pendiriannya
“Sudah, jangan protes! Besok kamu harus dandan secantik mungkin!” ujar Emira
“Buat apa?” tanya Afi yang kepalang cemberut
“Besok keluarga kita ada janji sama keluarganya Taylor” jawab Emira
“WHAT?!” Afi makin tidak terima dengan semua ini
-------------------------------------------
“Dijodohin sama Afi cewek konyol itu?! Ogah deh. Mending sama Rachel daripada dia!” ketus Taylor
“Lah, kok kamu ngomong begitu sih. Afi itu anaknya baik, sopan, cantik lagi” ucap sang Ibunda, Deborah
“Iyalah sopan didepan Bunda sama Ayah. Kalo didepan Taylor? Kumat sedengnya!” ujar Taylor
“Heh, sembarangan kamu kalo ngomong. Kamu besok gak ada kerjaan kan? Besok malem jam 7 ikut Bunda sama Ayah ke restaurant steak itu. Ada janji sama keluarga Pak Richard” jelas Deborah
“Tau ah, terserah!” Taylor menutup pintu kamarnya dengan kasar. Sementara Deborah hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putranya itu
-------------------------------------------
Malam itu, jam 7 itu Restaurant Steak. Keluarga Pak Daniel dan Pak Richard berjabat tangan.
“Eh, Taylor, itu salaman dulu sama calon istri!” kata Deborah
“Hueeekkk~” Afi sangat enek mendengar ucapan Ibunda Taylor. Begitupula Taylor, memandangi Afi dengan tampang ‘Ewh’ -_____-V
“Heh, yang sopan kamu, Fi! Ini calon mertua lho!” tegur Emira
“Iya iya maap!!” ketus Afi
Afi dan Taylor berjabat tangan. Iya, berjabat tangan tanpa memandang satu sama lain. Mungkin, hanya 1 detik -_-a
“Jadi, gimana nih tentang resepsi pernikahan putra putri kita?” tanya pak Daniel
“Gimana kalo seminggu lagi? Mumpung saya punya banyak tenaga kerja kan. Bisa disuruh-suruh. Lagipula, gak perlu terlalu mewah, yang penting sakral dan resmi. Iya gak, Fi?” usul Pak Richard
“Tau ah, terserah.” Jawab Afi cuek yang asik mengotak-atik iPodnya
“Siniin iPod lo! Hargain orang tua ngomong kek!” ketus Taylor seraya merebut iPod Afi
“Ih, bala banget sih lo! Balikin iPod gue!!” Afi berusaha meraih iPodnya kembali
“GAK.”
“Sudah sudah, kalian ini belum nikah aja udah berantem mulu” ucap Deborah
“Dulu saya pernah dengar, biasanya kalo belum nikah udah sering berantem, udah nikahnya pasti romantis” ucap Emira
“JANGAN NGIMPI!” celetuk Afi
“Sini lo,” Taylor menarik tangan Afi dan membawanya keluar
“Lo bisa gak sih diem dikit?” bentak Taylor
“Kenapa? Lo gak suka? Yaudah!” Afi melawan
“Iya, gue gak suka, gue gak ngarep, gue gak menginginkan hal bodoh kayak gini kejadian!”
“Apa? HAL BODOH?! Jaga tuh congor lu!” Afi semakin emosi bung!
“Asal lo tau, gue gak pernah sudi nikah sama makhluk absurd kayak lo!,” celetuk Taylor
“Satu lagi, karena lo!! Iya, lo!! Hubungan gue sama Rachel, cewek yang dari dulu gue cinta, BERAKHIR! Gara-gara makhluk kayak lo gini!!” sambung Taylor seraya menunjuk-nujuk ke wajah Afi
Taylor pergi. Tak sepatah kata pun Afi keluarkan. Hatinya sakit mendengar ucapan pedas dari Taylor. “Brengsek,” gumam Afi seraya menahan air matanya
“Ma, Taylor mau pulang duluan! Ada janji sama temen!” ucap Taylor seraya mengambil jasnya
“Lho, kok gitu sih? Janji kamu kan mau disini” ujar Pak Daniel
“Ngedadak, Yah. Udah ah, Taylor duluan. Semlikum~” Taylor pun pergi meninggalkan mereka
“Oh iya, Afi mana ya?” tanya Deborah
“Palingan ke toilet. Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita” jawab Pak Richard
Afi menangis ditengah dinginnya udara malam. Masih terekam jelas perkataan pedas dari bibir Taylor tadi. Wanita mana yang tidak sakit hati dicaci dan dimaki seperti itu.
“Udah, Fi. Sabar. Ini baru tahap awal” Afi menghapus air matanya dan kembali menuju tempatnya
-------------------------------------------
Hari pernikahan pun tiba dengan dibalut suasana adat betawi. Memang tak ada ekspresi ‘Segar’ (bisa dikatakan wajahnya kusut seperti benang) diantara kedua pasangan yang telah menjadi ‘Pasutri’ ini. Taylor lebih sering tersenyum. Iya, tersenyum untuk menghargai usaha kedua orang tuanya. Sedangkan Afi, ia hanya memasang muka jutek dan tidak ingin tahu.
“Fi, senyum napa!” ujar Taylor
Afi terdiam. Masih tak ingin berbicara dengan Taylor
“Bisa gak, kamu pasang senyum kamu untuk mereka (tamu undangan)? Kita bisa dicap aneh. Ok?” ucap Taylor
“Ada badai apaan lo manggil aku-kamu?!” ketus Afi
“Kita sekarang suami istri. Hargai status aku sebagai suami kamu. Ngerti?” ujar Taylor
-------------------------------------------
Pernikahan selesai. Tiba saatnya untuk pulang. Didalam mobil, tak ada pembicaraan antara Taylor dan Afi.
“Sayang…” Taylor memulai pembicaraan ;3
“Jangan panggil-panggil aku ‘Sayang’ atau sebagainya! Panggil aku, ‘Afi’!” Afi masih ketus
“Ayolah. Jangan kayak anak kecil. Kita harusnya bersikap dewasa, Fi.” Ujar Taylor
“Halah, sok bijak” sindir Afi
“Huh. Dasar cewek, susah dinasihatin” gumam Taylor
-------------------------------------------
Afi & Taylor tiba dirumah baru mereka. Masih bersih dan harum.
“Ah, capek!” Afi merebahkan tubuhnya diatas kasur berwarna merah muda
“Kamu capek? Mau aku buatin minuman?” tawar Taylor
“Gila, ini cowok lagi gangguan jiwa apa gimana sih? Dari tadi kalem amat” ucap Afi dalam hati
“Gak usah. Mau tidur aja” tolak Afi yang masih jutek
“Yaudah. Selamat malam, mimpi indah ya~” ucap Taylor
Jam 2 malam. Afi tidak bisa tidur, ia gelisah. Ia pun terbangun. “Taylor?” Afi mencari Taylor yang tak ada disampingnya
Ternyata, Taylor tidur di sofa. Ia sama sekali tidak ingin tidur disamping istrinya sendiri. Ia tak mau membuat Afi marah.
Afi mendekati Taylor, “Taylor, maaf ya untuk saat ini aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Mungkin nanti, atau besok. Yang jelas, aku belum bisa mencintaimu.” bisik Afi
Afi mengecup kepala Taylor, “Semoga mimpi indah”
-------------------------------------------
“Hai, Fi. Baru bangun ya?” sapa Taylor
“Iya, bangun dari kubur!” celetuk Afi
“Widih, serem banget, mbak” Taylor tersenyum simpul
“Ini, aku udah masakin sarapan buat kamu. Sini, makan dulu” ajak Taylor
Afi jalan menuju meja makan dan makan bersama suaminya, OkTaylorio ☺
“Ih, jorok! Udah gede makan masih celemotan. Gimana sih” Afi tertawa melihat nasi belepotan di bibir Taylor
“Sini aku bersihin,” Afi menggunakan ibu jarinya untuk mengambil nasi yang menempel dibibir Taylor
Mereka pun bertatap mata, cukup lama
“Makasih,” ucap Taylor kepada istrinya
Taylor mengecup lembut kening Afi ♥
Mungkin, inilah awal dari terbangunnya istana cinta dihati mereka~
“Lusa kita ke Rio de Janeiro” Ucap Taylor
“Ke Rio? Ngapain?” tanya Afi
“Kita habiskan waktu kita disana. Layaknya pasangan yang baru menikah. Ok?” jelas Taylor
Afi mengangguk dan tersenyum ~
-------------------------------------------
“Tay, bantu aku dong!” Afi tampak keberatan membawa 2 koper berisi baju-bajunya ini
“Ah elah, cuma segitu doing, Fi. Ayo ah mandiri”
“Tapi berat” Afi memanyunkan bibirnya ;p
“Ckck. Yaudah sini aku bantu! Aku kan suami yang baik~” Taylor mulai ngegombal ;D
“Tau ah terserah~” pipi Afi memerah ;)
Perjalanan dari Indonesia ke Rio de Janeiro pun dimulai. Tak ada pembicaraan antara suami istri ini. Diam seribu bahasa
“Fi” ucap Taylor
“Apa?” jawab Afi
“Nggak deh~”
Kurang lebih, seperti itu pembicaraannya xD
-------------------------------------------
Taksi mengantar sepasang suami istri yang baru menikah seminggu itu ke sebuah hotel bintang lima
“Thank you, sir” Taylor memberikan ongkos(?) kepada sang supir
“Ini hotel yang akan jadi saksi bisu kisah romantis kita” ujar Taylor
Afi hanya menganga terpesona melihat cover(?) hotel yang cukup menyegarkan mata
Mereka sampai dikamar mereka.
“Sayang, mandi dulu gih” ucap Taylor
“Kamu duluan aja, aku capek” tolaknya
“Ih, aku mau beresin barang-barang dulu. Aku masih lama” Taylor menolak juga
“Sini deh aku bantuin biar cepet”
Afi membantu Taylor membereskan barang-barang bawaannya
“Thank you” ujar Taylor seraya tersenyum kepada istrinya
“Sama-sama” jawab Afi dan membalas senyuman Taylor
“I love you” bisik Taylor seraya memeluk Afi
“I… love… you…, too” jawab Afi ragu-ragu
“Maaf waktu itu aku bikin kamu nangis. Aku nyesel udah bikin wanita secantik kamu sia-sia membuang air mata hanya untuk lelaki bodoh sepertiku” ucap Taylor seraya memandang kearah wajah Afi *cihuy
“Nggak. Menurut aku, kamu satu-satunya lelaki yang paling sempurna seantero ;)” bisik Afi
Mereka berdua tersenyum. Taylor mendekatkan wajahnya ke Afi dan *piiiiiiippppp---* :p
“Udah buruan mandi” ucap Afi
“Kamu dulu gih”
“Nggak mau!”
“Kalo gak mau, kita mandi berdua ya” Taylor memeletkan lidahnya
“Iya iya -_-“
-------------------------------------------
“Afiiii!!!” panggil Taylor yang masih mengenakan handuk ditubuhnya
“Apaan?” Afi menghampiri Taylor
“Buatin aku sarapan gih. Aku laper” rengek Taylor manja
“Iya iya” jawab Afi
Tiba-tiba handuk yang Taylor kenakan lepas x_x
“AAAAAAAA!!! Taylor handuk kamu!!!!!!” Afi menjerit histeris seraya menutup mata
“Sorry!” Taylor langsung pergi menuju kamar mandi
“Huufffft -_-“
-------------------------------------------
Selesai sarapan, Taylor pergi keluar. Katanya sih, ada janji sama temannya yang kebetulan sedang di Rio
Afi berada di hotel sendiri. Bosan? Pasti
“Ah, mending cari cemilan dulu lah keluar” Afi bangkit dari kasurnya
-------------------------------------------
“Segini aja deh yaa. Gak usah banyak-banyak” gumam Afi seraya membawa kantong kresek yang cukup besar xD
Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan Taylor, suaminya, “Tay….” Baru saja Afi hendak memanggil, seorang wanita telah berada didekat Taylor. Dan mereka berpelukan seperti sudah sangat dekat. Awalnya, Afi menganggap biasa. Namun, setelah berpelukan, mereka…. Berciuman… Bibir…
“TAYLOR…” lirih Afi
Afi berlari seraya menangis. Ia tak menyangka bahwa dibalik kelembutan Taylor, ia menusuk Afi dari belakang, “Dasar cowok brengsek! Aku nyesel udah bilang cinta sama kamu!!”
-------------------------------------------
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Taylor belum pulang. Afi berbaring dikasurnya. Air matanya masih mengalir deras. “Ini mimpi buruk yang jadi kenyataan..”
‘Kreekk’. Seseorang membuka handle pintu, “Afi, kamu udah tidur?” ternyata Taylor
“Kamu udah makan belum? Ini aku bawain makanan buat kamu” Taylor meletakkan beberapa makanan yang ia beli dimeja
“Siapa wanita itu, Tay?” lirih Afi
“Dia Rachel. Mantan kekasihku. Maaf aku….”
“Kau masih mencintainya? Ceraikan aku. Talak aku” Afi duduk menatap Taylor
“Hey, aku sudah menikah denganmu. Aku tidak mungkin mencintai Rachel lagi. Yang tadi, itu hanya salam perpisahan. Ia akan pergi ke Phoenix. Ia akan menikah juga disana. Aku berani bersumpah” Taylor menjelaskan semuanya seraya memegang tangan Afi
“Sudah berapa kali aku membuat air matamu mengalir?” tanya Taylor seraya menghapus air mata Afi
“Entahlah…” jawab Afi
“Maafkan aku. Aku berjanji ini yang terakhir kalinya membuatmu menangis. Jika sampai air matamu terjatuh, siksalah aku sesukamu. Aku berjanji atas nama cinta” :’)
Afi tersenyum dan mengecup bibir Taylor. Untuk pertamakalinya, mereka memadu rasa cinta mereka di kesunyian malam Rio de Janeiro~
-------------------------------------------
Sudah sekitar 19 hari mereka menghabiskan waktunya di Rio. Kini tiba saatnya mereka pulang.
“Sarapan dulu nih, aku buatin mie” ujar Taylor
“Makasih yaa” Afi siap melahap mie yang Taylor buatkan dengan racikan bumbu cinta ♥
“Tunggu…”
Afi langsung berlari menuju kamar mandi. Rasa mualnya tidak dapat ia tahan,
“Afi, kamu kenapa? Apa masakanku tidak enak? Apa kamu sakit? Kita bisa tunda kepulangan kita” Taylor sangat panik dengan keadaan Afi. Wajahnya pucat
“Nggak, aku kayaknya masuk angin” jawab Afi
Afi keluar dari kamar mandi dan memandang kalendernya. “13 hari…” gumam Afi seraya melihat lingkaran merah yang ia buat di angka-angka tanggal
“Kenapa?” tanya Taylor, “Aku telat. Masa datang bulanku” jawab Afi
Taylor terbelalak, “Apa kau…”
-------------------------------------------
Kini keluarga kecil Taylor sudah lengkap dengan kehadiran seorang anak perempuan yang bernama Isabella itu. Keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan ♥