Sabtu, 14 Juni 2014

Pengakuan


Awalnya aku berfikir bahwa,

Mengharapkan mu untuk mempunyai perasaan yang sama itu

Seperti mengharapkan untuk memeluk bulan.



Awalnya aku berfikir,

Kamu sama sekali tidak ada perasaan terhadapku.



Awalnya aku berfikir,

Kamu tidak pernah melihat ku,

Yang kau lihat hanya lah masa lalu mu.



Tapi,

Itu semua hanya awalnya...



Kamu tidak tau, 

Betapa bahagianya aku saat kamu mengatakan bahwa kamu menyukai ku.

Mengakui bahwa perasaan itu ada



Betapa bahagianya aku,

saat kamu mengatakan bahwa kau sudah move on dari mantan mu itu.

Dan mengatakan bahwa aku yang membuat mu move on



Kamu tidak tau seberapa bahagianya aku saat itu ...

Perubahan mu terhadap ku pun terlihat ...

Aku senang akan perubahan mu itu kepada ku ...



Terimakasih untuk pengakuannya :)

Rabu, 14 Agustus 2013

Singkat dan Sederhana

Belum pernah aku merasakan kekhawatiran yang seperti ini.
Begitu khawatir sehingga aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.
Sedih. Takut. Cemas.
Sedih karena aku telah tanpa sadar membuatmu marah.
Takut, aku takut untuk menghubungimu.
Cemas karena aku tau kepercayaan untukku sudah pudar.
Semuanya menjadi satu, berkecamuk didalam hatiku.
Seakan-akan ada ribuan jarum yang mendesak masuk kedalam hatiku.
Apa yang harus aku perbuat sekarang?
Apa yang harus aku katakan sekarang?
Beritahu aku!
Walaupun aku tau apapun yang akan aku perbuat, tidak akan membuatmu baik lagi seperti semula.
Apapun yang aku katakan, tidak akan membuatmu mempercayaiku.
Sungguh. Aku tidak ada maksud apapun saat itu.
Semua kata-kata itu keluar begitu saja.
Seakan-akan, jari-jari ku yang telah lancang menuliskan kata-kata itu tanpa aku perintah.
Sakit. Sungguh sakit ku rasa.
Tapi aku pantas mendapatkan rasa sakit ini.
Rasa sakit atas perkataanku sendiri yang mungkin telah membuatmu tersinggung.
Rasa sakit ini. Rasa khawatir ini. Benar-benar ku rasa.
Terlalu berlebihan memang, tapi inilah yang kurasa.
Aku terlalu pengecut untuk bilang semua langsung.
Aku hanya bisa mengungkapkan semua itu melalui tulisan singkat dan sederhana ini.

Kamis, 11 Juli 2013

Langkahku yang Sudah Semakin Jauh



Aku tak pernah membayangkan langkahku bisa sejauh ini 

Perasaanku bisa sedalam ini untukmu 

Aku tidak tahu apakah ini sudah masuk kedalam fase cinta? 

Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu? 

Entahlah... 



Seharusnya dari awal aku tidak membiarkan rasa ini tumbuh terlalu dalam 

Mengharapkanmu untuk memiliki perasaan yang sama itu, 

Seperti mempunyai angan-angan untuk memeluk bulan

Sangat mustahil untuk didapatkan...



Mungkin kamu fikir aku lebay, aku kegeeran dan apalah itu, 

Tapi ini lah aku... 

Ini lah aku yang menyayangimu dan berharap kau memiliki perasaan yang sama 

Kadang aku berfikir menjadi perempuan bodoh, 

Karena menyayangi seseorang yang tak menyayangiku... 



Tapi aku menikmati setiap detik text yang kau kirim... 

Aku menikmati setiap tweet yang kamu tulis... 

Aku menikmati setiap detik hidupku yang berhubungan dengan mu...:)

Jumat, 21 Juni 2013

Llovèra

by @SeraNur_

“Apa? Dijodohin?!” Gadis berusia 19 tahun ini tampak shock mendengar pernyataan dari kedua orangtuanya
“Ayolah, Fi. Ini jalan satu-satunya agar kita bisa tetap hidup” bujuk Ibunda Afi, Emira
“Tapi, Ma. Aku gak mau dijodohin sama Taylor cowok jelek nan brengsek *ups-_- itu. Mama gak bisa nyuruh aku pisah sama Tav. Aku gak bisa” lirih Afi
“Taylor itu anak baik kok. Dia baru aja dapet gelar Master di Aussie. Dia ganteng kok” Emira terus merayu putri semata wayangnya itu
“Ih, ogah! Ganteng dari Arab!” Afi tetap ‘keukeuh’ pada pendiriannya
“Sudah, jangan protes! Besok kamu harus dandan secantik mungkin!” ujar Emira
“Buat apa?” tanya Afi yang kepalang cemberut
“Besok keluarga kita ada janji sama keluarganya Taylor” jawab Emira
“WHAT?!” Afi makin tidak terima dengan semua ini
-------------------------------------------
“Dijodohin sama Afi cewek konyol itu?! Ogah deh. Mending sama Rachel daripada dia!” ketus Taylor
“Lah, kok kamu ngomong begitu sih. Afi itu anaknya baik, sopan, cantik lagi” ucap sang Ibunda, Deborah
“Iyalah sopan didepan Bunda sama Ayah. Kalo didepan Taylor? Kumat sedengnya!” ujar Taylor
“Heh, sembarangan kamu kalo ngomong. Kamu besok gak ada kerjaan kan? Besok malem jam 7 ikut Bunda sama Ayah ke restaurant steak itu. Ada janji sama keluarga Pak Richard” jelas Deborah
“Tau ah, terserah!” Taylor menutup pintu kamarnya dengan kasar. Sementara Deborah hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putranya itu
-------------------------------------------
Malam itu, jam 7 itu Restaurant Steak. Keluarga Pak Daniel dan Pak Richard berjabat tangan.
“Eh, Taylor, itu salaman dulu sama calon istri!” kata Deborah
“Hueeekkk~” Afi sangat enek mendengar ucapan Ibunda Taylor. Begitupula Taylor, memandangi Afi dengan tampang ‘Ewh’ -_____-V
“Heh, yang sopan kamu, Fi! Ini calon mertua lho!” tegur Emira
“Iya iya maap!!” ketus Afi
Afi dan Taylor berjabat tangan. Iya, berjabat tangan tanpa memandang satu sama lain. Mungkin, hanya 1 detik -_-a
“Jadi, gimana nih tentang resepsi pernikahan putra putri kita?” tanya pak Daniel
“Gimana kalo seminggu lagi? Mumpung saya punya banyak tenaga kerja kan. Bisa disuruh-suruh. Lagipula, gak perlu terlalu mewah, yang penting sakral dan resmi. Iya gak, Fi?” usul Pak Richard
“Tau ah, terserah.” Jawab Afi cuek yang asik mengotak-atik iPodnya
“Siniin iPod lo! Hargain orang tua ngomong kek!” ketus Taylor seraya merebut iPod Afi
“Ih, bala banget sih lo! Balikin iPod gue!!” Afi berusaha meraih iPodnya kembali
“GAK.”
“Sudah sudah, kalian ini belum nikah aja udah berantem mulu” ucap Deborah
“Dulu saya pernah dengar, biasanya kalo belum nikah udah sering berantem, udah nikahnya pasti romantis” ucap Emira
“JANGAN NGIMPI!” celetuk Afi
“Sini lo,” Taylor menarik tangan Afi dan membawanya keluar

“Lo bisa gak sih diem dikit?” bentak Taylor
“Kenapa? Lo gak suka? Yaudah!” Afi melawan
“Iya, gue gak suka, gue gak ngarep, gue gak menginginkan hal bodoh kayak gini kejadian!”
“Apa? HAL BODOH?! Jaga tuh congor lu!” Afi semakin emosi bung!
“Asal lo tau, gue gak pernah sudi nikah sama makhluk absurd kayak lo!,” celetuk Taylor
“Satu lagi, karena lo!! Iya, lo!! Hubungan gue sama Rachel, cewek yang dari dulu gue cinta, BERAKHIR! Gara-gara makhluk kayak lo gini!!” sambung Taylor seraya menunjuk-nujuk ke wajah Afi
Taylor pergi. Tak sepatah kata pun Afi keluarkan. Hatinya sakit mendengar ucapan pedas dari Taylor. “Brengsek,” gumam Afi seraya menahan air matanya

“Ma, Taylor mau pulang duluan! Ada janji sama temen!” ucap Taylor seraya mengambil jasnya
“Lho, kok gitu sih? Janji kamu kan mau disini” ujar Pak Daniel
“Ngedadak, Yah. Udah ah, Taylor duluan. Semlikum~” Taylor pun pergi meninggalkan mereka
“Oh iya, Afi mana ya?” tanya Deborah
“Palingan ke toilet. Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan kita” jawab Pak Richard

Afi menangis ditengah dinginnya udara malam. Masih terekam jelas perkataan pedas dari bibir Taylor tadi. Wanita mana yang tidak sakit hati dicaci dan dimaki seperti itu.
“Udah, Fi. Sabar. Ini baru tahap awal” Afi menghapus air matanya dan kembali menuju tempatnya
-------------------------------------------
Hari pernikahan pun tiba dengan dibalut suasana adat betawi. Memang tak ada ekspresi ‘Segar’ (bisa dikatakan wajahnya kusut seperti benang) diantara kedua pasangan yang telah menjadi ‘Pasutri’ ini. Taylor lebih sering tersenyum. Iya, tersenyum untuk menghargai usaha kedua orang tuanya. Sedangkan Afi, ia hanya memasang muka jutek dan tidak ingin tahu.

“Fi, senyum napa!” ujar Taylor
Afi terdiam. Masih tak ingin berbicara dengan Taylor
“Bisa gak, kamu pasang senyum kamu untuk mereka (tamu undangan)? Kita bisa dicap aneh. Ok?” ucap Taylor
“Ada badai apaan lo manggil aku-kamu?!” ketus Afi
“Kita sekarang suami istri. Hargai status aku sebagai suami kamu. Ngerti?” ujar Taylor
-------------------------------------------
Pernikahan selesai. Tiba saatnya untuk pulang. Didalam mobil, tak ada pembicaraan antara Taylor dan Afi.
“Sayang…” Taylor memulai pembicaraan ;3
“Jangan panggil-panggil aku ‘Sayang’ atau sebagainya! Panggil aku, ‘Afi’!” Afi masih ketus
“Ayolah. Jangan kayak anak kecil. Kita harusnya bersikap dewasa, Fi.” Ujar Taylor
“Halah, sok bijak” sindir Afi
“Huh. Dasar cewek, susah dinasihatin” gumam Taylor
-------------------------------------------
Afi & Taylor tiba dirumah baru mereka. Masih bersih dan harum.
“Ah, capek!” Afi merebahkan tubuhnya diatas kasur berwarna merah muda
“Kamu capek? Mau aku buatin minuman?” tawar Taylor
“Gila, ini cowok lagi gangguan jiwa apa gimana sih? Dari tadi kalem amat” ucap Afi dalam hati
“Gak usah. Mau tidur aja” tolak Afi yang masih jutek
“Yaudah. Selamat malam, mimpi indah ya~” ucap Taylor
Jam 2 malam. Afi tidak bisa tidur, ia gelisah. Ia pun terbangun. “Taylor?” Afi mencari Taylor yang tak ada disampingnya
Ternyata, Taylor tidur di sofa. Ia sama sekali tidak ingin tidur disamping istrinya sendiri. Ia tak mau membuat Afi marah.
Afi mendekati Taylor, “Taylor, maaf ya untuk saat ini aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Mungkin nanti, atau besok. Yang jelas, aku belum bisa mencintaimu.” bisik Afi
Afi mengecup kepala Taylor, “Semoga mimpi indah”
-------------------------------------------
“Hai, Fi. Baru bangun ya?” sapa Taylor
“Iya, bangun dari kubur!” celetuk Afi
“Widih, serem banget, mbak” Taylor tersenyum simpul
“Ini, aku udah masakin sarapan buat kamu. Sini, makan dulu” ajak Taylor
Afi jalan menuju meja makan dan makan bersama suaminya, OkTaylorio ☺
“Ih, jorok! Udah gede makan masih celemotan. Gimana sih” Afi tertawa melihat nasi belepotan di bibir Taylor
“Sini aku bersihin,” Afi menggunakan ibu jarinya untuk mengambil nasi yang menempel dibibir Taylor
Mereka pun bertatap mata, cukup lama
“Makasih,” ucap Taylor kepada istrinya
Taylor mengecup lembut kening Afi ♥
Mungkin, inilah awal dari terbangunnya istana cinta dihati mereka~
“Lusa kita ke Rio de Janeiro” Ucap Taylor
“Ke Rio? Ngapain?” tanya Afi
“Kita habiskan waktu kita disana. Layaknya pasangan yang baru menikah. Ok?” jelas Taylor
Afi mengangguk dan tersenyum ~
-------------------------------------------
“Tay, bantu aku dong!” Afi tampak keberatan membawa 2 koper berisi baju-bajunya ini
“Ah elah, cuma segitu doing, Fi. Ayo ah mandiri”
“Tapi berat” Afi memanyunkan bibirnya ;p
“Ckck. Yaudah sini aku bantu! Aku kan suami yang baik~” Taylor mulai ngegombal ;D
“Tau ah terserah~” pipi Afi memerah ;)

Perjalanan dari Indonesia ke Rio de Janeiro pun dimulai. Tak ada pembicaraan antara suami istri ini. Diam seribu bahasa

“Fi” ucap Taylor
“Apa?” jawab Afi
“Nggak deh~”

Kurang lebih, seperti itu pembicaraannya xD
-------------------------------------------
Taksi mengantar sepasang suami istri yang baru menikah seminggu itu ke sebuah hotel bintang lima
“Thank you, sir” Taylor memberikan ongkos(?) kepada sang supir
“Ini hotel yang akan jadi saksi bisu kisah romantis kita” ujar Taylor
Afi hanya menganga terpesona melihat cover(?) hotel yang cukup menyegarkan mata

Mereka sampai dikamar mereka.
“Sayang, mandi dulu gih” ucap Taylor
“Kamu duluan aja, aku capek” tolaknya
“Ih, aku mau beresin barang-barang dulu. Aku masih lama” Taylor menolak juga
“Sini deh aku bantuin biar cepet”
Afi membantu Taylor membereskan barang-barang bawaannya
“Thank you” ujar Taylor seraya tersenyum kepada istrinya
“Sama-sama” jawab Afi dan membalas senyuman Taylor
“I love you” bisik Taylor seraya memeluk Afi
“I… love… you…, too” jawab Afi ragu-ragu
“Maaf waktu itu aku bikin kamu nangis. Aku nyesel udah bikin wanita secantik kamu sia-sia membuang air mata hanya untuk lelaki bodoh sepertiku” ucap Taylor seraya memandang kearah wajah Afi *cihuy
“Nggak. Menurut aku, kamu satu-satunya lelaki yang paling sempurna seantero ;)” bisik Afi
Mereka berdua tersenyum. Taylor mendekatkan wajahnya ke Afi dan *piiiiiiippppp---* :p
“Udah buruan mandi” ucap Afi
“Kamu dulu gih”
“Nggak mau!”
“Kalo gak mau, kita mandi berdua ya” Taylor memeletkan lidahnya
“Iya iya -_-“
-------------------------------------------
“Afiiii!!!” panggil Taylor yang masih mengenakan handuk ditubuhnya
“Apaan?” Afi menghampiri Taylor
“Buatin aku sarapan gih. Aku laper” rengek Taylor manja
“Iya iya” jawab Afi
Tiba-tiba handuk yang Taylor kenakan lepas x_x
“AAAAAAAA!!! Taylor handuk kamu!!!!!!” Afi menjerit histeris seraya menutup mata
“Sorry!” Taylor langsung pergi menuju kamar mandi
“Huufffft -_-“
-------------------------------------------
Selesai sarapan, Taylor pergi keluar. Katanya sih, ada janji sama temannya yang kebetulan sedang di Rio
Afi berada di hotel sendiri. Bosan? Pasti
“Ah, mending cari cemilan dulu lah keluar” Afi bangkit dari kasurnya
-------------------------------------------
“Segini aja deh yaa. Gak usah banyak-banyak” gumam Afi seraya membawa kantong kresek yang cukup besar xD
Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan Taylor, suaminya, “Tay….” Baru saja Afi hendak memanggil, seorang wanita telah berada didekat Taylor. Dan mereka berpelukan seperti sudah sangat dekat. Awalnya, Afi menganggap biasa. Namun, setelah berpelukan, mereka…. Berciuman… Bibir…
“TAYLOR…” lirih Afi
Afi berlari seraya menangis. Ia tak menyangka bahwa dibalik kelembutan Taylor, ia menusuk Afi dari belakang, “Dasar cowok brengsek! Aku nyesel udah bilang cinta sama kamu!!”
-------------------------------------------
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Taylor belum pulang. Afi berbaring dikasurnya. Air matanya masih mengalir deras. “Ini mimpi buruk yang jadi kenyataan..”
‘Kreekk’. Seseorang membuka handle pintu, “Afi, kamu udah tidur?” ternyata Taylor
“Kamu udah makan belum? Ini aku bawain makanan buat kamu” Taylor meletakkan beberapa makanan yang ia beli dimeja
“Siapa wanita itu, Tay?” lirih Afi
“Dia Rachel. Mantan kekasihku. Maaf aku….”
“Kau masih mencintainya? Ceraikan aku. Talak aku” Afi duduk menatap Taylor
“Hey, aku sudah menikah denganmu. Aku tidak mungkin mencintai Rachel lagi. Yang tadi, itu hanya salam perpisahan. Ia akan pergi ke Phoenix. Ia akan menikah juga disana. Aku berani bersumpah” Taylor menjelaskan semuanya seraya memegang tangan Afi
“Sudah berapa kali aku membuat air matamu mengalir?” tanya Taylor seraya menghapus air mata Afi
“Entahlah…” jawab Afi
“Maafkan aku. Aku berjanji ini yang terakhir kalinya membuatmu menangis. Jika sampai air matamu terjatuh, siksalah aku sesukamu. Aku berjanji atas nama cinta” :’)
Afi tersenyum dan mengecup bibir Taylor. Untuk pertamakalinya, mereka memadu rasa cinta mereka di kesunyian malam Rio de Janeiro~
-------------------------------------------
Sudah sekitar 19 hari mereka menghabiskan waktunya di Rio. Kini tiba saatnya mereka pulang.
“Sarapan dulu nih, aku buatin mie” ujar Taylor
“Makasih yaa” Afi siap melahap mie yang Taylor buatkan dengan racikan bumbu cinta ♥
“Tunggu…”
Afi langsung berlari menuju kamar mandi. Rasa mualnya tidak dapat ia tahan,
“Afi, kamu kenapa? Apa masakanku tidak enak? Apa kamu sakit? Kita bisa tunda kepulangan kita” Taylor sangat panik dengan keadaan Afi. Wajahnya pucat
“Nggak, aku kayaknya masuk angin” jawab Afi
Afi keluar dari kamar mandi dan memandang kalendernya. “13 hari…” gumam Afi seraya melihat lingkaran merah yang ia buat di angka-angka tanggal
“Kenapa?” tanya Taylor, “Aku telat. Masa datang bulanku” jawab Afi
Taylor terbelalak, “Apa kau…”
-------------------------------------------
Kini keluarga kecil Taylor sudah lengkap dengan kehadiran seorang anak perempuan yang bernama Isabella itu. Keluarga kecil yang penuh dengan kebahagiaan ♥

Aku Memilih Setia (4)

by @ayubecky

Part 4
*Rachel POV*
Tuhan, aku tak pernah ingin menangis dihadapannya. Tapi aku terlalu lama menanggung ini semua. Aku... aku ingin membalas rasa itu Tuhan. Tapi aku takut! Takut dia akan bernasib sama seperti Paul dan Ryan. Aku tau aku egois tuhan, tapii “Maafkan aku... aku tak bisa mencintaimu Demm... aku... aku... aku tak bisaa... maafkan aku, maafkan aku Dem” aku hanya bisa menangis, aku tak berani menatapnya aku taku melihat sakit itu. Aku terus menutup mataku tanpa memandangnya. Dia memelukku “Sudahh Chell, sudah... anggap aku tak pernah bicara seperti ini... aku mengerti!! Tenang sayang... tenang... aku ada disini sebagai sahabatmu seperti dulu..” hatiku semakin sakit mendengar itu. Tuhan, aku hanya ingin dia tetap hidup bersamaku disampingku. Aku tau tuhan aku egois! Aku tauu “Maafkan Aku Demmm… Maaf” aku masih larut dalam tangisku, tak peduli sudah berapa kali aku mengatakan itu. “

Keesokan Pagi...
“Selamat Pagi Chell.. maaf aku tak pamit padamu.. aku hanya ingin bilang ini hari terakhir aku cuti, jadi aku harus kembali ke LA pagi ini juga. Bukan karena kejadian semalam, aku akan tetap bersamamu mau beribu kali kau menolakku, aku memilih setia bersamamu dan Ryan. Aku akan memperjuangkan itu, aku percaya suatu saat Tuhan mendengar pintaku..I love You” Hatiku masih terasa sakit, aku masih merasakan sisa sisa air mata di wajahku. Dan aku tak mau menangis lagi. Aku bergegas bangun dan segera menyiapkan sarapan untuk keluargaku. “Mommy.. Om genit kemana sih?? Kok ngga bawain Ryan blackforest lagi.." seminggu sudah Deme kembali ke LA tanpa ada kabar lagi "Mungkin Om genitnya sedang sibuk Nak..” aku meletakkan Es Krim kemangkunya “Tapii aku mau Black Forest Mom” rengeknya “iya nanti Mommy beliin yaa..” aku mengusap kepalanya “Aku enggak mau Mommy yang belii, aku mau om genit” dia merengek lagi “Grandapa atau uncle Jake yang beliin yaa” ujar Jake saat melintasi dapur “ENGGAK MAUUU..AKU MAUNYA OM GENIT!!” kali ini aku melihat Ryan menangis, ini tangisan yang beda. Aku tak pernah melihat Ryan menangis seperti ini “Tapi Om Genitnya di LA Nak..dia belum bisa kerumah kita, nanti kalau mommy ada uang kita ketempat Om Genit ya” “Enggak Mauu Momm..aku mau sama Om genittt” aku tak sanggup lagi mendengarkan rengekannya tentang Deme, aku memilih keluar sekedar menenangkan pikiran.

Seseorang menyentuh punggungku “Rachel...” saat aku menoleh ternyata “Aunty Ivonne..” ternyata Ibunya Deme “Hay cantik..apa kabarmu?” dia memelukku rasanya begitu hangat “Aku baik Aunt..Aunty sendiri apa kabar??” “tidak begitu buruk untuk wanita tua ini” beliau tertawa, tapi aku tau ada sesuatu yang mengganjal terlihat dimatanya “Mau ikut kerumahku.. aku membuat kue terlalu banyak, padahal Deme sudah kembali ke LA..” aku terdiam ketika beliau menyebut nama Deme “please..sekedar minum teh hangat..” ujarnya lagi, kali ini aku tak sanggup menolaknya. “Bagaimana kabar Ryan? Kemarin aku bertemu dengannya sedang bersama ayahmu tapi sepertinya dia kurang sehat” Aunty Ivone menuangkan teh hijau kecangkirku “dia baik baik saja..” aku mencuil cookiesku “tapi Aunty rasa tidak Chell. Aunty pernah mengalami ini sebelumnya..saat Deme kehilangan Stevan..” airmuka beliau seketika berubah sendu “sepertinya tidak Aunt..karena dia tak pernah kehilangan siapapun” “yaah mungkin ini hanya perasaanku saja..” hening hanya terdengar suara david cook yang seksi yang memenuhi seluruh ruangan “Maaf sebelumnya Chel..aku tak bermaksud mencampuri urusanmu dengan Putraku, hanya saja aku berharap kau mau memberikannya kesempatan. Bukan karena dia putraku, hanya saja aku tau bagaimana dia berusaha menghapusmu dari kehidupannya..dia sudah mencobanya selama berpuluh puluh tahun..tapi aku tau sekeras apapun dia mencoba dia takkan pernah bisa melupakanmu..aku mungkin egois, tapi bukankah hal wajar jika seorang ibu egois hanya untuk kebahagiaan anaknya? Anak satu satunya yang menjadi tumpuan hidupnya? Aku minta maaf Chel, tapi tak bisakah??” pertanyaan itu sedikit mengusikku “Baiklah aku harap ini bisa merubah segalanya, kemarin sebelum dia kembali ke LA dia mengembalikan ini dan memintaku untuk membakar semuanya..tapi menurutku kau berhak melihat ini sebelum akhirnya nanti kau yang memutuskan segalanya.” Aunty Ivonne menyerahkan sebuah kardus besar “aku akan meninggalkanmu sebentar dengan barang barang itu” Aunty Ivonne meninggalkanku. Aku begitu penasaran dengan isinya. Aku mengeluarkannya satu per satu. Yang pertama aku temukan adalah Flower Crown yang terbuat dari tanaman liar, aku ingat saat itu aku dan Deme bermain tentang menikah. Ternyata dia juga masih menyimpan cincin jerami itu. Airmataku mengalir lagi. Tuhan ini salahku. Kenapa aku begitu Tolol telah menyia-nyiakannya, ampuni aku Tuhan. Aku akan menghubunginya sekarang, tapi belum sempat aku menghubunginya Jake lebih dulu menghubungiku “Iyaa Jake ada apa??" tanyaku “Kakk..kakk..Ryan panasss.. seluruh badannya menggigil..” Jake terdengar begitu panik “Aunt..aku pamit dulu, Ryan sakit..aku harus segera membawanya kedokter” Aku berlari dan mencari Aunty Ivonne “sebelum kau pergi aku hanya ingin mengingatkanmu, bahwa kematian itu hanya Tuhan yang mengatur. Bukan kutukan jika orang-orang yang kau sayangi pergi secepat ini..Semoga Ryan segera sembuh” ujarnya segera aku memeluknya dan bergegas pulang.

*Demetri POV*
Aku membiarkan diriku dibawah shower tanpa membuka pakaianku. Aku masih merasakan perih itu, tidak seharusnya aku tak seperti ini. Selama ini aku jauh dari Rachel tapi aku tak pernah seperti ini, mengapa sekarang rasanya berbeda. Aku menangis, memukul dinding kamar mandiku hingga aku merasa lelah. Dinginnya air ini tak kurasakan lagi, rasanya seluruh indera perasaku mati bersamaan dengan kematian hatiku. Aku ingat Stevan pernah bilang “bahwa seorang pria menangis sesekali itu adalah pria sejati yang tak pernah munafik pada dunia, karena dia tak perlu membohongi dunia bahwa dia sedang terpuruk!” Selesai mandi aku hanya membaringkan tubuhku diatas ranjang, selera makan ku pun hilang entah kemana. Yang aku lakukan sejak kembali dari La Push hanya diam dan diam. Hari ini hatiku berdetak lebih cepat, rasa cemas dan takut akan kehilangan sesuatu menggelayuti hatiku. Padahal baru beberapa detik yang lalu aku menelpon ibuku, tapi kenapa perasaan ini masih saja betah mengikuti. Aku mondar mandir dikamar, berharap agar hatiku sedikit tenang. Dari kejauhan aku mendengar nada dering HPku, aku melihat dilayarnya nomer asing dengan ragu ragu aku mengangkatnya “Halo...” ujarku “Hallo..ini dengan Deme??” suara berat seorang pria “iyaa..mohon maaf ini siapa??” tanyaku pelan “Aku Jake..Jacob Black..remember??” “Ohh hai Jake apa kabar?? Ada apa kau menghubungiku??” “Aku hanya ingin memberitahukan..bahwa saat ini Ryan membutuhkanmu, sudah 2 hari ini dia berada dirumah sakit dan dia selalu menyebut namamu dalam tidurnya..aku berharap kau mau datang demi Ryan” “Apa?? Ryan sakit apa Jake?? Apa yang terjadi dengannya??” kepanikan mulai menggerogotiku, ternyata ini firasat itu, tak ada jawaban karena tiba-tiba telepon terputus. Akupun bergegas pergi menyambar ranselku.

*Rachel POV*
Ini hari ketiga Ryan di rumah sakit, belum ada kemajuan sedikitpun. Dan selama tiga hari inipun Ryan selalu mengigau memanggil Om Genit seperti Siang ini, aku yang sedang memandangi wjahnya hanya merasa begitu sakit saat mendengar nama itu. Kata dokter yang merawat Ryan selama ini, bahwa Ryan hanya butuh bertemu dan mendengar suara dari seseorang yang dipanggilnya Om genit. Sudah dua hari ini aku mencoba menghubungi Deme, tapi selalu mailbox yang menjawab pesanku. Hingga akhirnya aku merasa putus asa, mungkin Deme terlalu membenciku sehingga dia tak ingin aku menghubunginya lagi.

Sekembalinya dari aku membeli beberapa infus dan obat obat yang dibutuhkan Ryan, aku melihat pintu kamar Ryan. Ketika aku masuk aku melihat Ryan sudah sadar dan tertawa bahagia. Seorang pria dengan telaten menyuapinya dan melontarkan lelucon yang sama sekali tak lucu. Suara itu bagai air yang menyejukkan padang tandus dihatiku. Demetri! Iyaa ternyata dia tapi siapa yang memberitahukannya tentang hal ini “Kak..aku mau bicara sebentar” Jake mengagetkanku, untung aku tak meneriakinya “Apa Jake??” tanyaku. "Tapi enggak disini kak" Aku dan Jacob akhirnya pergi ke kantin Rumah sakit “kak maafkan aku sudah lancang menghubungi Demetri..tapii aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terhadap Ryan..aku selalu merasa Ryan baik-baik saja, tapi perasaanku itu lenyap setelah sebulan Demetri tidak datang.. aku seringkali melihat Ryan bengong..Mungkin ini saatnya Kak, aku tau kakak juga sangat mencintai Demetri lebih dari kakak mencintai Paul dan Ryan.. kakak jangan terpengaruh dengan ucapan orang lain bahwa kakak itu pembawa sial..ini takdir kak, ini sudah kehendak Tuhan.. aku berharap kakak bisa memikirkan ucapanku hari ini..aku bukan mau menasehatimu atau aku bersikap sok tua, tapi aku sudah rindu dengan wajah kalian berdua” Jake menggenggam tanganku begitu kuat “aku bingung Jakee..sangat bingung..aku bingung bagaimana caraku berkata jujur padanya..aku malu, malu karena menolaknya kemarin..padahal seharusnya aku tak semunafik itu. Aku mencintainya selama lebih dari 13 tahun ini, walaupun Paul dan Ryan hadir tapi mereka berdua tetap tak bisa menggantikan Demetri Alexander di hatiku..jadi menurutmu aku harus seperti apa Jake??” “Kau hanya perlu mengatakan bahwa kau mencintaiku Chel..karena Cintaku ini akan selalu setia memilihmu” Aku mendengar suara itu ada dibelakangku, rasanya aku ingin berlari menghilang dan tenggelam ditelan bumi. “Jadi kau masih mau menahan egomu untuk mengatakan kau mencintaiku Chel??” tanya Demetri lagi “Mommy..aku mau daddy Deme..ayolahh Momm pelukk kamii” aku juga mendengar suara Ryan, aku menatap Jake. Jake tersenyum dan mengangguk. Aku berbalik dan memeluk mereka “Yes I Love you Demetri, aku merindukanmu sungguh..jangan tinggalkan kami lagi yaa” “aaahh mommy sakittt” Ryan mengerang “Opss maaf maaf..sinii sama mommy" “No way..aku enggak mau sama mommy, mommy bau belum mandi dari kemaren” ujar Ryan lucu “Ryaaannnn”

*Demetri POV*
Stevan, lihatlah aku. Apa kubilang aku sudah berjanji padamu akan menikahi Rachel kan?? Lihat kami sekarang, kami keluarga kecil yang bahagia. Aku masih berharap kau disini dan memeluk kamu Stevan. Ini hari pernikahan kami, aku sangat bersyukur bisa menikahi Rachel, wanita yang aku cintai dengan sepenuh hati. Ditambah kehadiran Ryan yang makin membuat hidup kami berwarna. Aku memeluk mereka berdua dengan erat.


~THE END~

Aku Memilih Setia (3)

by @ayubecky

Part 3
*Demetri POV*
Aku baru menyadari betapa berartinya Ryan untuk Rachel, mungkin ini yang dinamakan cinta ibu sepanjang masa. Aku tak sanggup melihatnya menangis seperti itu. Aku ini memberikan punggungku agar dia bisa mencurahka kesedihannya itu atau berharap dia tenggelam dan menangis dipelukanku. Tapi sepertinya itu tak mungkin. Arrgh Tuhan, aku hanya bisa berharap diberikan kesehatan dan kehidupan supaya aku bisa membahagiakannya seumur hidupku. “Om..kita mau kemanaa??” tanya Ryan yang saat ini sudah berada digendonganku “Ryan mau janji dulu enggak sama Om..Janji Jagoan” aku berharap bocah ini tidak mengatakan sebenarnya apa yang aku rencanakan untuk kami bertiga malam ini “Janjii Om..Janji Jagoan” Ryan menyilangkan tangannya “Hari ini khan Mommy Achel ulang tahun, Om mau kasi kejutan..Jadi Ryan enggak boleh kasih tau mommy kita kemana” “Om, kata Mommy kita tidak boleh berbohong..Nanti Daddy yang disurga akan marah sama Ryan" “bukan berbohong Ryan, kita akan tetap ketaman bermain hanya saja nanti kita mampir dulu ketoko kue Grandma Sue…” “Asyikk..Ryan mau black forest lagii yaa Om…” “Okee Jagoann..tapi jagoan harus mengunci mulutnya yaaa, trus kuncinya dibuang kelaut” “iyaa Om..Janjji deh..”. Kami memesan sebuah kue tar cantik bertuliskan ‘happy Born Day beautiful mommy’ tak lupa aku membelikan Ryan blacforest kesukaannya. Setelah itu kami menuju ke sebuah café romantic diujung jalan, dan aku bertemu dengan Sam agar bisa memesan meja di depan panggung nanti malam. Aku berharap semua rencanaku berjalan lancar. Kami berduapun tiba di tempat bermain anak-anak, aku menurunkan Ryan dari gendonganku. Setiap aku melihat tawa dan senyum Ryan, aku selalu teringat senyum yang persis sama seperti ibunya. Aku merasa perasaanku semakin kuat dan berakar dihatiku, akupun semakin yakin bahwa dia memang wanita yang paling tepat dihidupku, aku ingin melamarnya. Tapi aku ragu akankah dia menerimaku? Arggghh..sudahlah lupakan, karena hanya melihat senyumnya saja aku tau bahwa dia bahagia ada disisiku. “Omm..pulang yuk?? Aku laperrr..heee” Ryan memamerkan sederet giginya yang putih bercampur cokelat “Ayoo..tapi sebelumnya Om sini om bersihin dulu mukanya” aku mengambil tisu basah itu dan melap seluruh wajah serta tangannya. Setelah bersih kami kembali kerumah.

*Rachel POV*
Jantungku terus berdetak tak karuan, melihat jam. Tanpa sadar aku menunggunya, menantinya berharap dia kembali kerumah ini lagi. Aku terus menatap jam, hingga ketukan dipintu membuatku kaget sendiri, aku merasakan darah hangat mengalir kepipiku aku yakin saat ini rona merah menghiasi wajahku. Aku menarik nafas, sekedar menenangkan diri. Aku melangkahkan kakiku kearah pintu “Haiii..bagaimana hari kalian?? Menyenangkan??” ternyata Ryan tertidur digendongan Deme “Sssstt..dia sepertinya capek sekali bermain bersama teman temannya tadi..Ohh iya aku ingin mengajak kalian makan malam, malam ini apakah kau ada waktu??” tanya Deme “yaa tentu saja…” "baiklahh aku akan menjemput kalian pukul 7..” terlihat aura kegembiraan diwajahnya “Ehmm..mm.. baiklah kalau begitu aku pamit dulu saja..” terlihat deme begitu kikuk, karena baru 2 langkah dia melangkah dia menoleh dan berkata "thankyou" hampir saja dia jatuh karena tersandung pagar kecil di sekeliling taman. Aku menahan tawaku.

Aku mematut diriku didepan cermin, aku tersenyum menatap diriku dalam balutan satin hitam dan blazer hitam serta bross berwarna merah. Tapi aku berpikir ini terlalu resmi akhirnya pilihanku jatuh pada tanktop putih, blazer putih tulang dan celana jeans gelap. “mommy..kita mau kemana??” tanya Ryan “kita mau dinner sama Om genit..” Aku memakaikannya jaket agar dia tidak merasa kedinginan. Tepat jam 7 Deme menjemputku “Lho kita jalan kaki??” tanyaku, Deme mengangguk dan tersenyum dalam hati aku bersyukur aku menggunakan baju ini karena aku juga melihat Deme hanya memakai kemeja putih dimana lengannya digulung hingga siku serta celana jeans yang senada denganku. Kami berjalan beriringan setiap orang melihat kami antara bingung dan kagum. Kami seperti keluarga kecil apalagi ada Ryan diantara kami yang tersenyum begitu bahagia. Ternyata kami ke café milik Sam, aku kaget tiba-tiba penerima tamu memberikanku sebuket mawar merah aku menemukan kartu bertuliskan ‘My Little Queen Happy Birthday you’re king in past’.

Aku tersenyum menatap Deme, yang disenyumi malah pura-pura asyik bermain dengan Ryan. Kami menikmati suasana café ini, Ryan saja asyik bermain kesana kemari. ”Selamat Malam kepada para pengunjung Café Uley, Malam ini kami kedatangan tamu istimewa dari LA. Di hari ini dia ingin memberikan persembahan terbaik kepada seseorang, sahabat dimasa kecilnya yang hari ini berulang tahun. Mari kita sambut dengan tepuk tangan meriah kepada Mr. Demetri Alexander…” Aku menoleh kepadanya, dia tersipu malu dan berbisik ‘Happy Birthday my little Queen’ setelah itu dia menuju kearah panggung kali ini Ryan ikut disampingnya dan menggandeng serta tersenyum manis kepadanya “Sekali lagi tepuk tangan untuk Mr. Demetri Alexander dan si Kecil ini Ryan Black Lahote” kembali presenter memperkenalkan mereka. Ryan begitu bahagia dia ikut tepuk tangan dengan begitu semangatnya. Kemudian Deme menggendong Ryan, ketika duduk didepan piano Ryan terlihat nyaman dipangkuannya “Lagu ini saya persembahkan untuk My Little Queen yang hari ini berulang tahun... begitu banyak cerita yang kita lalui... dan aku bertemu denganmu disini begitu kuat dan tegar... this song for you Rachel Black…” tangannya begitu lincah diantara tuts piano, alunannya begitu merdu,
‘When I think back on these times, and the dreams we left behind,I was blessed to get to have you in my life..When I look back on these days, I’ll look and see your face, you were right there for me…….’
Lagu ini, aah kenapa dia menyanyikan lagu ini. Ini lagu kesukaanku, aku ikut mendendangkan lagu itu. Tiba-tiba Ryan turun dari pangkuan Deme. Berjalan kearahku dan menarik tanganku membawaku keatas panggung. Setelah menghabiskan lagu itu dengan berduet, Deme bangun dari tempat duduknya seketika lampu café mati, Ryan yang ada dipelukanku begitu erat melingkarkan tangannya dileherku akupun tak berani bergerak dari atas panggung. Tiba tiba “Happy Birthday Racheell..happy Birthday Rachell.. Happy birthaday happy Birthday happy Birthday Rachel..”awalnya satu lilin menyala kemudian seluruh ruangan café ini terang benderang karena cahaya Lilin dan dari arah kiriku aku melihat Deme membawa sebuah kue cantik dengan lilin warna warni diatasnya. Ryan yang ada dipelukanku mulai bertepuk tangan “Make A wish please” ujar Deme, aku tersenyum, ada rasa haru yang menyelinap direlung hatiku. Aku menutup mataku, bayang-bayang Deme terlihat jelas ‘Tuhan aku tak berharap apapun dengan hubungan ini, aku hanya ingin yang terbaik untukku dan Ryan aminn’ dengan segera aku meniup seluruh lilin yang ada pada kue itu. Dan akhirnya lampu menyala lagi, lalu pesta pun dimulai. Aku tak pernah menyangka Deme bisa mengundang seluruh orang terdekatku Daddy, Jacob, Renesmee, Bella, Edward, Rebecca dan Solomon. Aku menikmati hari ini.

*Demetri POV*
Tak ada yang lebih membahagiakan ketika melihatnya tersenyum bahagia karena aku. Sejak aku kanak-kanak dan jatuh cinta pertama kali dan terus jatuh cinta pada Rachel, aku tak pernah menyesalinya karena dia yang begitu indah. Saat pulang aku memberanikan diri menyentuh tangannya dan menggenggamnya erat, tidak ada penolakan. Aku menikmatinya walau kami hanya diam dan tak banyak bicara, bisa seperti ini saja adalah kebahagiann yang begitu besar. Senyum merekah itu tak pernah hilang dari wajahnya. Ingin sekali aku menciumi wajahnya, seperti aku menciumi wajah Ibu ku... Bukan! Bukan maksudku menyamakannya dengan ibuku. Hanya saja aku begitu mencintainya dan rasanya gemas sekali dengan ekspresi wajahnya. Setelah meletakkan Ryan di kamarnya, akupun segera pamit tapi sebelum langkah ke 2 Rachel memanggilku “Demeee..” “Yaaa..” aku menoleh tiba-tiba satu kecupan mendarat di pipi kiriku “Terima kasih untuk hari ini..” dia tersenyum begitu manis, aku terpaku dan tak bergerak “Demmm..Demm” dia melambaikan tangannya di depan wajahku “Eeehh... iyaaa... itu semua karena aku... eemm lupakan... aku pamit dulu yaaa...Good Night” ingin rasanya aku mengutuk diriku, sejujurnya aku ingin mengutarakan semuanya tapi aku tau ini bukan saatnya. Hari-hariku begitu indah disini, tak terasa besok adalah hari terakhirku dikota ini. “Mom... aku ingin meminta Restumu untuk meminang Rachel menjadi istriku... aku berharap Momma mau mendukungku” aku mengatakannya ketika Beliau sedang membelai rambutku, aku sebenarnya merasa berat untuk pergi dari sini. Aku begitu nyaman meletakkan kepala dipangkuannya. “Sepertinya kamu tak perlu menanyakan itu lagi Nak..Kamu sudah tau jawaban apa yang akan aku berikan padamu..” Jawab ibuku. “Yes Mom... aku hanya memastikan” aku menutup mataku menikmati setiap belaian dari tangan lembut ibuku. Aku memantapkan hati untuk mengungkapkan segala rasa yang ada dihatiku. Aku melangkahkan kakiku kerumah Black, berharap Rachel ada dan mau ku ajak keluar. Hatiku berdegup begitu kencangg, terlalu kuat malah. Aku tak sanggup menaha gejolak ini. Angin dingin mencoba menusuk kulitku, yang pada kenyataannya adalah kulitku dan seluruh tubuhku lebih dingin. Ada kekhawatiran, bukan karena aku akan ditolak, tapi khawatir dia akan membenciku dan tidak mau bertemu denganku lagi. Dan aku tak bisa melihat tawa renyah Ryan. “Hai Chel..” sapaku saat Rachel membuka pintunya “Hai Deme..Ryan sudah tidur 30 menit yang lalu” “Bukann bukan..aku bukan ingin bertemu dengannya aku ingin bertemu denganmu, maukah kamu untuk keluar sekedar mengobrol denganku??” tanyaku, aku memasukkan kedua tanganku kedalam kantong jaketku “Hemm... baiklah... tunggu sebentar aku ambil Jaket dulu…” Dia berlari kedalam, tak berapa lama “Ayoo” kami pun melangkah beriiringan. Hening itu yang terjadi, kami melangkah menuju taman, tempat ini begitu sepi dan hening mungkin karena cuaca yang akhir-akhir ini tak bersahabat “Chel..Aku ingin jujur padamu... aku sudah tak sanggup lagi menahan ini. Terlalu rapuh jika aku harus menahan ini lagi. Perasaan yang kupendam sejak kita pertama kali bertemu, aku tak peduli jika kau sudah memiliki putra. Akupun tak peduli apa kata orang. Yang aku pedulikan adalah bahwa aku mencintaimu, bahwa aku memilihmu sebagai belahan jiwaku..” 5 menit masih hening, aku tak berani menatapnya. “Jika kamu berpikir aku ini gila... yaa aku akan mengakuinya keseluruh dunia bahwa aku gila... jika kamu dan Ryan tak ada disampingku..” kali ini aku memberanikan diri menggenggam tangannya. Tangannya dingin dan beku “Aku tau aku terlalu berlebihan..tapi ini jujur dari hatiku. Aku bahkan tak tau bagaimana caranya agar aku bisa hidup tanpamu.. dan aku akan melakukan apapun demi tetap bersamamu dan Ryan..” kali ini aku merasakan setetes air membasahi punggung tanganku, genggaman itu semakin kuat “Aku meminta maaf jika aku menyakitimu..jujur aku tak ingin menyakitimu dan melukaimu sedikitpun..” “bukann..bukan itu Demm” Terdengar getar diantar ucapannya, aku mengerti ada sesuatu yang berat yang membuatnya seperti ini.


*BERSAMBUNG LAGI~

Aku Memilih Setia (2)

by @ayubecky

Part 2
*Demetri POV*
Wanita itu lagi, sekilas jika diperhatikan wajahnya mirip sekali dengan artis yang bernama Nikki Reed begitu juga rambutnya yang dipotong pendek dan sedikit bergelombang. Tapi siapa anak kecil itu?? Mengapa dia ketakutan seperti itu seolah-olah aku akan mambahayakan mereka. aku melangkah gontai kearah meja makan, disana ibuku yang cantik telah menungguku "Lho Anak gantengku ini kenapa?? makanan itu untuk dimakan sayang, bukan buat dijadikan mainan” aku masih berkutat dengan perkataan Mr. Black pagi ini. Mengapa semua itu terjadi pada Rachel. Apa salah Rachel sehingga beban yang harus ditanggungnya begitu berat “HEIII…” Ibu sedkit mengeraskan nada suaranya sehingga membuatku tersadar “Eeeh iyaa Mom…” “Ituu makanan jangan dijadikan mainan shayank..Apa yang sedang kamu pikirkan Nak??” “Mom..aku mau bertanya menurut Momma Rachel itu seperti apa sih??” “Rachel??Rachel siapa nak??” “Rachel Black Mom…teman masa kecilku itu” “Ouh..dia wanita yang cantik, baik hati, dan selalu tersenyum..itu point yang paling menarik menurut Momma” “Maksud Momma???” aku sedikit bingung dengan apa yang dimaksud bundaku ini “maksud Momma, sekalipun masalah mendatanginya bertubi-tubi, dia tak pernah menunjukkan betapa rapuhnya hati itu…dia wanita tangguh dan ibu yang baik bagi Ryan..Momma mengaguminya bahwa dengan usia semuda itu dia kuat untuk menghadapi hidup” jawab Mommaku “Seandainya dia menjadi mantumu bagaimana Mom??” Pertanyaan itu membuat wajah ibuku berubah, namun itu hanya terjadi beberapa detik setelah itu “Siapapun pilihanmu, selama menurut kamu dia yang terbaik untukmu Momma akan selalu mendukungnya..dan satu hal kamu harus mampu mencintainya dan menghargainya seumur hidup serta bisa menerima Ryan” aku bangkit dari tempat dudukku dan sesegera mungkin memeluk dan mencium pipinya “Thank you Mom..You’re the best”.

Sore ini aku memantapkan hatiku lagi untuk kerumah Rachel, dan melupakan wanita dipemakaman yang sempat membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku membawakan Pie Apel kesukaan Rachel dari toko kue paling tua di wilayah kami, sedangkan untuk Ryan aku membelikannya black forest. Aku memilih berjalan kaki karena aku merasa segalanya begitu menyenangkan ketika bertemu warga, yang bisa membawaku kekenangan masa laluku. Tiba dirumah keluarga Black, aku mengetuk pintunya. Tak sampai 1 detik pintu terbuka, aku melihat hanya saja tak ada yang keluar. “Om..Om genit mau cari siapa??” Aku melihat kebawah ternyata anak laki laki berumur 5 tahun yang begitu menggemaskan yang membukakan pintu “Haii jagoann… Om mau mencari Ibu Rachel..Ada??” aku berjongkok agar kami sejajar “Sebentar yaa Omm..MOOOMMM..MOMMY INI ADA OM GENIT MAU KETEMU MOMMY” teriaknya, dan yang membuatku bingung kenapa dia bilang aku Om genit yaa?? yaa sudahlah “Ryannnn..Maaf yaa, dia agak sedikit tidak sopan pada Anda..”suara lembut itu begitu menenangkan, saat aku melihatnya ternyata dia wanita yang ada dipemakaman, dan yang tadi pagi ketemu di jalan..OH MY GOD Tuhaaannn terima kasihh “Eeh iya tidak apa apa..aku maklum kok..” aku merasakan sesuatu yang semakin kuat, tapi entah itu apa “terima kasih.. anda mau mencari siapa??” “Ohh maaf, perkenalkan Aku Demetri Alexander..aku ingin bertemu Rachel sahabat masa kecilku“ ujarku sedikit gugup, karena sebenarnya orang yang aku cari ada didepanku “Ouhh haii Demeee, apa kabar?? maaf maaf kita sudah terlalu lama tak bertemu sehingga aku sedikit lupa seperti apa wajahmu” dia memelukku sedikit canggung, aku membalas pelukannya dengan satu tangan karena tangan yang satu lagi masih memegang buah tangan untuknya dan Ryan “hahaha..oh iya Chel, ini aku bawakan untukmu Pie Apple favoritmu yang aku beli di toko tante Sue..sedangkan ini untuk jagoan kecil Blackforest cokelat” dalam sekejap kotak kotak itu sudah berpindah tangan “Yaa ampun Dem..kok kamu repot repot banget..mau mengobrol di sini atau di taman belakang??” tanyanya “Hemm sepertinya lebih santai jika kita ngobrol ditaman belakang saja..” “kalau begitu ayo masukk..” Aku mengikutinya kehalaman belakang rumah ini. “Om genit, om genit itu dari mana sih?? dari luar angkasa yaaa?? kok aku tidak pernah melihat Om yaa??” bener kata Momma, si kecil ini begitu aktif, dan agak sedikit banyak bertanya “hahahha iyaa Om ini asalnya dari planet Venus..Om ini Alien yang siap menangkapmu” aku merasa diriku berubah menjadi alien, alien yang ada di Men in Black “Om tak mungkin bisa menangkapku karena aku punya ini.*DORR* matii Om” dia menarik pistol mainannya yang pelurunya adalah sinar laser “AAH” aku pura pura mati. Aku mendengar suara langkah kakinya “Ayoo Ryan jangan Ganggu Om Deme..Ryan main sendiri yaa” Achel mengacak acak rambut Ryan setelah dia menyajikan minuman untukku “Maafin Ryan sekali lagi yaa Deme..ayoo silahkan diminum” “Enggak apa apa Chel, namanya juga anak – anak wajarlah seperti itu” aku menyeruput lemon tea hangat yang disajikan Rachel, rasanya aku tidak pernah menemukan minuman hangat seenak ini “Oh iya Dem, katanya kamu tinggal di LA yaa?? Wah enak donk..disana kamu kerja apa?? Ouh iya setelah SD kamu melanjutkan SMP dimana sih kok bisa tiba gtiba hilang tak ada kabar??” wajar bila dia banyak bertanya karena hampir 12 tahun kami tak bertemu, walapun aku sering pulang ke La Push. Sore ini pembicaraan kami begitu ringan begitu hangat, dan aku berharap esok, esok dan seterusnya kami bisa lebih dari ini.

*Rachel POV*
Kenapa rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya?? Apa yang akan terjadi?? Aah sudahlah aku tak mau berpikir yang bukan bukan, aku mencoba menepis perasaanku ini. Aku melanjutkan membaca buku kesukaanku, sampai tiba-tiba Ryan memanggilku, yang terdengar hanya Om genit yaa ampun siapa lagi yang dia panggil seperti itu “Apa sih Ryan..” aku melangkah kedepan. Dan….Tuhann laki laki itu, seketika lututku lemas jantung bekerja lebih cepat lagi, tanganku sedikit gemetar. Aku dengan sengaja memperlambat langkahku “Ryannnn..Maaf yaa, dia agak sedikit tidak sopan pada Anda..” aku merasakan kegugupan tingkat tinggi. Terasa canggung bertemu dengannya lagi, ternyata dia.. dia yang aku temukan ada di pemakaman, dia yang waktu itu bertemu denganku dijalan. Tuhann ternyata dia Deme. Cinta masa kecilku. Kenapa wajahnya berputar putar di kepalaku? Ada apa denganku? Mengapa dia selalu ada diotakku. Tuhan aku mohon ampuni aku..ARGGGHHHH “Mommy..aku ngantuk ayoo ayo mommy..” Ryan menarik narik ujung bajuku. Ini kebiasaanku, aku menggantikannya baju mengajarkannya untuk gosok gigi dan mencuci muka sebelum tidur. Setelah itu aku akan membacakan dongeng yang kutulis sendiri untuknya. Tapi setiap aku menceritakan dongeng itu yang terlintas dikepalaku bayangan deme dan aku sedang berpakaian kerajaan. Aku mengusap usap wajahku agar aku sadar.

Entah mengapa?? Rasanya hatiku tak terasa hampa lagi, sesuatu yang hangat selalu memenuhi hatiku saat dia mengunjungi kami. Ryan juga begitu akrab dengannya, walaupun dia selalu dipanggil Om genit dia tak pernah sedikitpun terlihat marah ataupun tersinggung. Dan sepertinya Ryan begitu nyaman dengannya, lebih nyaman tepatnya bila dibandingkan kedekatan Ryan dengan ayahku ataupun Uncle Jakenya. Aku menikmati semuanya, perhatian yang dia berikan, kejutan kejutan yang terkadang membuatku tersenyum sendiri. “Chell, sepertinya daddy liat akhir-akhir ini kamu tampak ceria sekali…sejak kedatangan Deme tepatnya” aku tau pasti ayahku akan menanyakan ini, sesungguhnya aku tak ingin membahas ini sedikitpun. Aku menyadari cinta masa kecilku itu mulai berkembang, tapi ada sesuatu yang entah mengapa tak ingin hubungan ini berlanjut lebih dari persahabatan. “Aah itu hanya perasaan daddy saja, aku rasa beberapa hari terakhir ini Ryan lebih ceria itu saja yang membuatku bahagia..karena kebahagiaan Ryan melebihi kebahagiaanku sendiri Dad..”ujarku sambil tersenyum menutupi sesuatu yang sesungguhnya ingin kubagi “Tapi Achel, Ryan juga butuh figure seorang ayah, dan daddy rasa Deme...”belum selesai ayahku berbicara aku memotongnya “Dad, selama 3 tahun ini, aku bisa menghidupi Ryan, mendidiknya, dan aku rasa Ryan tak pernah kekurangan cinta..dia memiliki Daddy dan Uncle Jakenya yang selalu memberikan cinta sepenuh hati..Bukankah itu cukup Dad??” ujarku sambil meletakkan piring dan mangkuk berisi sereal dan sup jagung kesukaan Ryan “Tapi Nak..” “Sudahlah Dad, aku tak mau membahas ini lagi” aku meninggalkan ayahku yang masih memiliki sejuta pertanyaan. Sesungguhnya aku ingin mengatakan padanya aku mencintai Deme, tapi aku takut aku takut akan terluka kembali. Terluka karena orang yang kita cintai pergi karena kita. “Ryaaann.. Ryaaaannn..Ryann” aku memanggil Ryan berkali kali, tapi tak ada jawaban. Aku mulai panikk Ryan tak kutemukan dimanapun “DADD..DADDYY” aku berteriak memanggil ayahku, dengan tergesa-gesa dia mendekatiku “ada apa Chel?? Kenapa kau berteriak?? Mana Ryan??” tanya Daddyku “Ryann..Ryan tak ada dimanapun Dad..aku sudah mencarinya keseluruh bagian dari rumah ini... tapi aku tak dapat menemukannya” air mataku jatuh tanpa dikomando “Tenang Nak..tenang..mungkin dia sedang keluar bersama Jake” ayah mengusap usap punggungku, tapi itu tak berhasil membuatku tenang “Tidak Daddy, tadi sebelum Daddy bangun Jake pamit kerumah keluarga Cullen dan Ryan masih tertidur dikamarku” “kalau begitu ayo kita cari keluar..mungkin tetangga ada yang melihatnya pergi..” aku dan ayahku berjalan kearah luar, sebelum aku keluar pagar dari jauh aku melihat Ryan digendong seseorang sambil menangis. Aku berlari mengambil Ryan dari pelukan orang itu “Aduhh Nak..kamu kemana saja?? Mommy khawatirr sayang...” “Aku menemukan dia sedang berjalan sambil menangis, saat aku menghampirinya dia langsung memelukku” ujar pria itu yang tak Lain Deme “Ryaann..kamu mau kemana Nak?? Kenapa tidak pamit ke Mommy kalau mau pergi??” “Ryan kangen Daddy Mommy, tadi di mimpi Ryan ketemu Daddy. Kata Daddy dia kangen Ryan, daddy bilang Daddy kesepian jadi Ryan mau nemenin daddy tapi Ryan lupa jalan ke rumah Daddy” mendengar itu air mata membanjiri mataku, aku memeluknya lebih erat “Mommy jangan nangis, kata Daddy Mommy jelek kalau menangis..Ryan juga enggak suka liat Mommy nangis” seketika aku ingin menghentikan air mata ini tapi tidak bisa, hingga tangan mungil itu yang menghapus airmata ini “Kata Daddy, kalau Mommy nangis Daddy juga dirumah surga akan menangis..dan daddy benci melihat Mommy menangis” aku masih memeluknya erat sambil mengusap airmataku “Ryan laper enggak?? Ada sop jagung kesukaan Ryan..” “Iya Mommy Ryan laper sekali..dari tadi Ryan denger suara kodok diperut Ryan“ kami yang mendengarnya tertawa, aku menoleh kearah Deme dan berbisik “Thank you” Deme tersenyum dan mengangguk, kemudian membawa Ryan masuk “Ayo Deme..kamu ikut kami sarapan saja, anggap ini sebagai ucapan terima kasih kami” kulihat sekilas daddy memeluk Deme. Selesai sarapan yang menyenangkan ini “Ouh iya Uncle dan Rachel, aku ingin meminta ijin pada kalian untuk berjalan-jalan dengan Ryan..sebelum makan siang Ryan dan aku sudah kembali kerumah..Apakah aku diijinkan??” tanya Deme “Iya Grandpa..Ryan mau ikut om Genit jalan jalan boleh enggak??” ujar Ryan sambil menyuapkan satu sendok penuh sup kedalam mulutnya “Memangnya kalian mau kemana?” tanyaku dan Daddy berbarengan “Rahasia donk Mommy, Mommy dan Grandpa enggak boleh tau dan enggak boleh ikut” “Kami Cuma mau bermain di taman bermain dekat rumahku saja..” ujar Deme “Kalau Grandpa, terserah Mommymu saja Ryan” Daddy membelai lembut kepala Ryan “Bolehh yaaa Mommy..Pleaseee..Pleasee pleaseeee” Ryan menangkupkan tangannya didepan wajahnya dengan memasang ekspresi lucu andalannya “Okee baiklah..tapi dengan satu Syarat HPmu tidak boleh mati Deme..” “I swear” Deme mengerling kepadaku “Kalau begitu sekarang Ryan mandi dulu yaa..nanti om deme jemput lagi..oke..salam jagoan”Deme menyilangkan kedua tangannya, dan aku baru mengetahui itu adalah cara mereka bersalaman.


*BERSAMBUNG...